Academicals Slave

Teropong

“Hi there…, another academicals slave.”

These cynical words are shouted by a Ph.D. student, a friend of mine when we meet each other. He is a very senior Australian, more than 60 years old. I and my Chinese friend always laugh hearing that “sarcastic” joke. Although it is just a joke, I think it reflects actual protest behind the words.

In an Australian context, Ph.D. students are doubting about government ability to provide a job that suitable for Ph.D. graduates. The amounts of scholarships are also questioned because they got a scholarship, according to them, is relatively low. In fact, a monthly stipend from the Australian government for Australian students is twice times more than that is provided for non-Australian. Let’s say AusAID scholarship gives about $20 thousand AUD per non-Australian students per year; its mean Australian students can receive about $40 thousand AUD a year. Nevertheless, they are still protesting because, as a comparison, a low-level air conditioning technician can earn more than $50 thousand AUD a year! They are questioning why the government do not appreciate Ph.D. students’ brain because they actually also work, developing new theories and inventories

Episode ‘Mendebarkan’

Serba-serbi

Saya harus banyak bersyukur. Sejak dari bangku SLTA hingga bisa melanjutkan ke program Ph.D ini bantuan beasiswa selalu mengililinga saya.

SLTA saya dibiayai oleh Departemen Agama melalui program Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) yang diinisiasi oleh Menag H. Munawir Syadzali. Ketika Kuliah S1 memperoleh beasiswa dari Supersemar selama 2 tahun. S2 pertama memperoleh beasiswa dari Departemen Agama R.I. dan S2 yang kedua dari beasiawa Fulbright scholarship. Saat ini saya tengah menempuh program Ph.D dengan beasiswa dari Dirjen Dikti Depdiknas RI

Dari Cleaner ke Main Film

Serba-serbi

Ada ada saja pengalaman unik di negeri orang. Selama saya di negeri Kangguru ini beragam “profesi” telah saya jalani. Resminya, saya adalah mahasiswa PhD di Griffith University. Namun keinginan untuk memperoleh selingan aktivitas yang menghasilkan dollar mendorong saya mencari “lowongan kerja” yang bisa diisi pada waktu luang. Salah satu keuntungan study di Australia ini mahasiswa diperbolehkan bekerja tanpa harus mengurus working permit sebagaimana di USA dulu. Student visa yang diberikan oleh kedubes Australia sekaligus berfungsi sebagai visa kerja, meski maksimum 20 jam perminggu.

Debut perburuan dollar saya mulai dengan menjadi cleaner. Awalnya diajak teman, ikut membantu membersihkan toko yang lumayan luas di pagi hari dari jam 7.30 – 9.30an. Meski jadwal tidak pasti, pengalaman menyapu dan mengepel ini cukup memberi banyak pelajaran. Setidaknya saya tahu bagaimana sebuah toko itu dikelola secara professional. Selain di Toko, kadang saya juga diajak untuk membersihkan rumah orang Australia. Beragam bentuk rumah sudah saya masuki. Dari situ saya saya terkesan dengan tata ruang dan efisiensi pemanfaatan perabotannya