Bahasa Kekerasan

Teropong

Betulkah kita bangsa yang ramah, sopan dan santun? Katanya, keramahtamahan orang Indonesia selaku bangsa Timur tidak hanya pada sesama anggota keluarga dan masyarakat, namun juga kepada orang lain, the other. “Tamu adalah raja”, demikian slogan yang sering kita dengar, mengandung pesan agar memuliakan orang lain yang hadir di tengah kita..

Tampaknya, “doktrin” kita ini masyarakat yang ramah dan sopan perlu ditinjau ualang, sebab akhir-akhir ini kekerasan cenderung dijadikan cara “mengekspresikan” eksistensi dan kepentingan. Lihat saja trend tawuran antar pelajar yang sebenarnya dipicu oleh persoalan sepele, demontrasi mahasiswa mulai sering berakhir ricuh dan merusak fasilitas umum, serta cara-cara main hakim sendiri terhadap anggota masyarakat yang diindikasi berbuat kriminal.

Komodifikasi Spiritual

Kutipan

Selesai memoderatori diskusi bulanan Laboratorium Religi & Budaya Lokal (LABEL) Fak Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kemarin, Selasa 20 April 2010, wartawati kompas menelepon saya. Berikut laporannya yang termuat di KOMPAS

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Komodifikasi spiritualitas Jawa semakin kentara. Hal ini ditandai dengan banyaknya iklan maupun penayangan di media yang menawarkan jasa ritual berbasis spiritualisme Jawa. Menguatnya komodifikasi dikhawatirkan membuat nilai-nilai spiritualitas Jawa mengalami pendangkalan, sehingga mengancam keberadaan spiritualitas itu sendiri.

Makam vs. Pelabuhan

Teropong

…tragedi berdarah tersebut seolah bernuansa pertarungan antara dunia profan dengan dunia sakral, antara sekular versus spiritual. Namun, bila ditelisik lebih jauh yang terjadi sebenarnya lebih kental nuansa pertarungan antara profan melawan profan…

Bagaimana menjelaskan tragedi “rebutan” makam di Koja, Jakarta Utara pada Rabu, 14 April 2010 yang lalu? Sedikitnya tiga nyawa melayang dan ratusan orang luka-luka akibat bentrokan tersebut. Mengapa nyawa sedemikian murah?

Berita televisi, internet dan surat kabar menyebutkan bentrokan dipicu oleh upaya paksa Satpol PP membongkar bangunan liar di sekitar makam mbah Priuk, tokoh yang diyakini masyarakat sebagai penyebar Islam pertama di wilayah itu. Sementara itu, pada saat bersamaan ratusan kaum Muslim sedang berziarah dan melakukan kegiatan keagamaan di komplek makam

Hari ini Satu Tahun yang Lalu

Serba-serbi

Palembang: “Hari ini, satu tahun yang lalu. ‘Selamat jalan Bunda’

Wonosari: “Sejenak Mengenang kepergian bunda: Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fu’anha, amin ya robbal alamiin.”

Yogya: “Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fu’anha. May Allah bless all her did n dedication.”

Pesan pendek pada layar telepon genggam saya satu persatu berdatangan. Adik dan kakak saling mengirim pesan, mengingatkan kepulangan Ibunda satu tahun yang lalu, tepatnya 13 April 2009.

Menanti Tajdid Spiritual

Teropong

Di beberapa kegiatan resmi organisasi dan forum-forum pengajian sering muncul pertanyaan peserta tentang sikap Muhammadiyah terhadap Tasawuf. Dalam sebuah pelatihan kader se-Sumatera beberapa waktu yang lalu, pertanyaan ini menyeruak ketika narasumber menyampaikan materi Paham Agama dalam Muhammadiyah, Dinamika Gerakan Pembaharuan dan Pemikiran dalam Islam, serta Perbedaan Identitas Muhammadiyah dengan Gerakan-Gerakan Islam lainnya.

Beberapa penanya tidak sekedar mencari pejelasan sikap resmi organisasi terhadap Sufism beserta segala apseknya namun juga menekankan bahwa dimensi esoteris itu diperlukan dalam beragama agar tidak terjebak pada formalisasi ritual. Dalam bahasa studi agama, having religion saja tidak cukup, perlu ditingkatkan menjadi being religious agar tidak terjebak pada dataran simbolik.

Muhammaddiyah, the Fatwa & Paradox of Modernity

Teropong

“Why does Muhammadiyah enthusiastically release fatwas (religious verdicts) lately?”

Ask a friend of mine in a milis responding the new fatwa of the Majelis Tarjih and Tajdid (MTT – Council of Legal Affair and Reform) on bank interest. The fatwa was one of Council National Meeting (Munas Tarjih) outcomes in Malang, East Java, 1-4 April 2010. Like previous Muhammadiyah fatwa on banning cigarette, the latest fatwa also stirred up pros and conts.

This brief posting will not address to the pro and cont issues about the fatwa. It rather would like to see beyond the fatwa from theory of modernity noting the phenomena as both the paradox of Muhammadiyah and, in a broader scope, the paradox of modernity.