Bahasa Kekerasan

Betulkah kita bangsa yang ramah, sopan dan santun? Katanya, keramahtamahan orang Indonesia selaku bangsa Timur tidak hanya pada sesama anggota keluarga dan masyarakat, namun juga kepada orang lain, the other. “Tamu adalah raja”, demikian slogan yang sering kita dengar, mengandung pesan agar memuliakan orang lain yang hadir di tengah kita..

Tampaknya, “doktrin” kita ini masyarakat yang ramah dan sopan perlu ditinjau ualang, sebab akhir-akhir ini kekerasan cenderung dijadikan cara “mengekspresikan” eksistensi dan kepentingan. Lihat saja trend tawuran antar pelajar yang sebenarnya dipicu oleh persoalan sepele, demontrasi mahasiswa mulai sering berakhir ricuh dan merusak fasilitas umum, serta cara-cara main hakim sendiri terhadap anggota masyarakat yang diindikasi berbuat kriminal.

Mengapa slogan ramah, sopan dan santun itu semakin sulit dicari contoh empiriknya di masyarakat? Perspektif legal formal menilai lunturnya sopan santun dan keramahtamahan tersebut karena low enforcements yang lemah dan hilangnya wibawa negara di mata rakyatnya. Di tengah situasi anomie semacam itu, yang paling kuat dan keras bersuara-lah pemenangnya. Wajar bila ada anggapan kehidupan kita ini dikendalikan oleh para preman, baik preman jalanan maupun preman kantoran.

Posting ini tidak akan mengupas masalah tersebut dari persepektif legal formal, namun mencoba menelisik akar kekerasan dan hilangnya keramahtaman dengan menganalisis bahasa dan cara berkomunikasi. Dengan mencermati gaya komunikasi yang berlaku di masyarakat, kita bisa menebak mind set di balik ungkapan-ungkapan yang muncul.

Dilihat dari watak dasar manusia, demikian menurut Ponijan Lieuw dalam web-nya Andrie Wongso, ada tiga jenis komunikasi: agressif, passif, dan assertif. Intinya, komunikasi agressif muncul dari pola pikir menang-kalah, win-lose; memandang diri sendiri pasti benar dan orang lain harus mengikuti kemauan kita. Komunikasi pasif muncul dari ketidakberdayaan diri sendiri dihadapan orang lain; membiarkan orang lain mengambil peran lebih aktif dari pada kita. Sedangkan komunikasi assertif berusaha mencapai kemenangan bersama-sama; I win – you win. Gaya agressif dan passif sama sama berada pada titik extrim yang mesti kita hindari. Sebab, komunikasi agressif menempatkan diri sendiri selaku komunikan sebagai pelaku kekerasan, sedangkan komunikasi passif memberi peluang orang lain untuk berperilaku kekerasan pada kita.

Setelah saya cermati, teryata tiap hari kita lebih banyak dijejali ungkapan-ungkapa agresif dengan gaya komunikasi I-It, bukannya I-thou. Coba perhatikan tulisan-tulisan yang sering kita jumpai di sekitar kita atau ruang-ruang publik:

“PEMULUNG MASUK DIGEBUK!”

“NGEBUT BENJUT”

“DILARANG KENCING DISINI, KECUALI ANJING!”

“DILARANG MEROKOK”

“TAMU HARUS LAPOR!”

Ironisnya, di tempat-tempat ibadah seperti masjid dan mushalla ungkapan-ungkapan agressif juga bisa kita jumpai dengan mudah seperti:

“HP HARUS MATI / OFF”

Bahkan ada ungkapan yang lebih seram, sebab bila dicermati yang dimatiin bukan HP-nya, seperti:

“YANG MEMBAWA HP HARUS MATI!”.

Inikah yang menggerus keramahtamahan kita selama ini? Mengapa gaya agresif yang dominan? Apakah itu cermin dari sikap jengkel, marah, dan geram kita kepada orang lain? Jangan-jangan beginilah selama ini cara kita memandang orang lain: sebagai pihak yang bebal dan sulit diataur sehingga perlu “dibentak” sekalipun dalam pesan tulisan? Tidak adakah ungkapan yang lebih sejuk, ramah, dan tidak menyingung pihak yang diberi pesan?

Saat membaca pesan-pesan yang biasanya ditempel di dinding-dining ruang publik tersebut, bagaimana perasaan Anda? Coba perhatikan, lebih sopan mana dibandingkan dengan alternatif pesan-pesan dibawah ini:

“TERIMAKASIH ANDA TIDAK MEROKOK”

“TERIMAKASIH TURUT MENJAGA KEBERSIHAN LINGKUNGAN DENGAN TIDAK BUANG AIR SEMBARANGAN”

“ALHAMDULILLAH ANDA TIDAK MENGAKTIFKAN HP DI DALAM MASJID”

“DEMI KETERTIPAN DAN MEMUDAHKAN PELAYANAN, TAMU DIPERSILAHKAN LAPOR KE PETUGAS JAGA”

Saya yakin Anda bisa merangkai pesan yang lebih sopan dibanding contoh-contoh di atas. Mungkin diantara Anda bertanya, lho kok pesannya jadi lebih panjang? Ya memang, itulah harga untuk bisa sama-sama memang. Bukankah kita sama-sama manusia yang senang bila dihargai hak dan eksistensinya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *