FPI Brisbane

… menjadi warga FPI Brisbane memperoleh banyak manfaat. …Selain silaturahmi fisik kita pun bersilaturahmi lidah,… bersama-sama menikmati anake kuliener dari berbagai Negara sahabat (Arab, Afrika, Pakistan, India, Indonesia, dll) … Sebuah ukhuwah multicultural yang lengkap, nikmat dan indah.

“Mangan ora mangan sing penting ngumpul (makan tidak makan yang penting berkumpul).” Ungkapan itu sering dilekatkan pada mayarakat Indonesia, terutama Jawa, yang gemar berkumpul baik dalam suasana suka maupun duka.

Budaya kumpul inilah, konon, yang mendorong orang Indonesia lebih banyak memiliki tradisi lisan dibanding tulisan. Dengan berkumpul, interaksi sesama family, kerabat, dan sejawat didominasi ngobrol, senda gurau, serta komunikasi verbal lainnya. Meski teknologi komunikasi telah menawarkan beragam cara “ngobrol” jarak jauh secara virtual (telepon, email, mailingslist, chating, sms, dll) terasa kurang afdhol bila aktifitas tersebut tidak dilakukan dengan tatap muka secara langsung. Alasan itu pula barangkali yang mendasari masyarakat perantauan Nusantara gemar membuat berbagai paguyuban atau organisasi sesuai dengan kepentingannya.

Di Brisbane, perkumpulan sasama perantau asal Indonesia luar biasa banyaknya; ada yang berbentuk organisasi payung, persatuan pelajar/mahasiswa, ikatan keagamaan, kelompok daerah, asosiasi profesi hingga hoby. Sebagian diantaranya adalah: PIQ (Persatuan Indonesia Quensland), PPIA (Persatuan Pelajar Indonesia di Australia) cabang Quensland, ISAGU (Indonesian Student Association of Griffith Uni), UQISA (The Univerity of Quensland Indonesian Student Association), PPIA QUT, IMCoGU (Indnesian Muslim Community of Griffith University), IISB (Indonesian Islamic Society of Brisbane), MIPIQ (Masyarakat Indonesia Pemburu Ikan Quensland), Perkumpulan Masyarakat Bali di Gold Coast, WKI Brisbane (Warga Kristen Indonesia), Brisbane Fotografer Club, dan masih banyak lagi kelompok-kelompok lain yang saya tidak bisa menyebutkannya.

Setelah hampir 2 tahun berkomunikasi dengan beberapa teman yang bergabung dalam berbagai perkumpulan di perantauan tersebut, ternyata ada “organisasi” lain yang aktifnya musiman. Nama perkumpulan tersebut mirip-mirip dengan salah satu ormas di Indonesia yang identik dengan sikap tegas dan keras-nya. Media Barat sering memberi stempel hardliner atau Islam garis keras pada ormas ini. Saya yakin anda tahu ormas apa yang saya maksud. Ya betul, FPI.

Meski sebutannya sama, FPI Brisbane ini jauh dari tindak kekerasan. Walaupun beroperasi hanya setiap Ramadhan, FPI Brisbane juga tidak pernah melakukan razia tempat-tempat yang dianggap pusat maksiat. Padahal, selama Ramadhan ini warung-warung makan, kantin di kampus, dan tempat-tempat “maksiat” lain buka sebagaimana biasa. Di Kampus, kita pun bisa dengan mudah melihat hilir mudik wanita pakai baju “you can see”, bercelana ketat, berjalan megal megol sambil makan burger, sandwich, kebab, atau minum soft dring di muka umum. Namun oleh FPI Brisabe hal tersebut dibiarkan saja.

Mau tau apa itu FPI Brisbane? FPI yang saya maksudkan adalah singkatan dari Front Pemburu Ifthar. Warganya sebagian besar student, namun tidak sedikit juga yang Permanent Resident. Warga FPI ini dengan senang hati menghadiri buka puasa bersama di kampus atau di beberapa masjid yang biasanya dilanjutkan dengan dinner dan sholat tarowih. Dalam perkembangannya, selain FPI versi pemburu, ada juga versi penyedia (Front Penyedia Ifthar). Menjadi warga FPI versi penyedia ini tentu lebih mulia dan insya Allah akan memperoleh berkah labih banyak.

Berdasar pengalamn, menjadi warga FPI Brisbane memberi banyak manfaat. Yang paling utama adalah memperkokoh jalinan silaturahmi. Rasa-rasanya hanya di perantauan-lah saya bisa bertatap-muka langsung dan sholat berjamaah berdampingan dengan saudara sesama Muslim asal Jordan, Saudi, Libyia, Oman, Somalia, Pakistan, India, Maroko, Belanda, Brunei, Malaysia, dan tentu warga Australia sendiri. Selain silaturahmi fisik kita pun juga bersilaturahmi lidah. Saat madhrib tiba, bersama-sama menikmati anake kuliener dari berbagai Negara sahabat (Arab, Afrika, Pakistan, India, Indonesia, dll) tergantung siapa host pada saat ifthar tersebut. Sebuah ukhuwah multicultural yang lengkap, nikmat dan indah.

Apakah anda juga warga FPI? Selamat menuntaskan ibadah Ramadhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *