Hari ini, tujuh tahun yang lalu

Maka nikmat Tuhan yang mana (lagi) yang akan engkau dustakan? Demikian salah satu ayat yang diulang hingga 30 kali dalam Surat Ar-Rahman.

Mengapa Allah mengulang-ulang ayat tersebut? Apakah manusia begitu bebal hingga diingatkan berkalai-kali? Saya yakin Allah tahu persis dengan makhluk ciptaannya ini yang mudah berbuat salah dan lupa. Karena itulah peringatan dalam bentuk kalimat tanya itu Allah firmankan berulang kali, meski kenyataanya hanya sedikit dari manusia yang mau bersyukur (wa qaliilun min ‘ibaadiyas-syakuur).

Mengapa manusia enggan bersyukur dan malah sering menyalahkan Sang Pemberi hidup? Karena manusia terlalu sering bernegatif thingking (su’udhan) bukan hanya terhadap orang lain dan diri mereka sendiri namun juga kepada sang Khaliq. Ungakapan “ah, aku kan lahir dari keluarga miskin, mana bisa sekolah sampai jenjang tertinggi” misalnya, tidak hanya merendahkan kemampuan dan potensi diri si pengucap namun juga ujud ingkar terhadap Allah yang telah melimpahkan setiap manusia potensi yang adiluhung (ahsani taqwim). Negatif thingking inilah yang mendasari manusia sulit bersyukur.

Pada konteks mensikapai hidup, syukur adalah ungkapan positive feeling terhadap segala situasi yang dihadapi: keluarga, masyarakat, pekerjaan, anak, kesehatan, rezeki, dan begitu seterusnya. Positif feeling inilah yang akan memunculkankan positive motivation yang pada gilirannya akan mengundang rizki tak terhingga sebagaimana firman-Nya Lainsyakartum La-aziidanakum…

Hari ini tujuh tahun yang lalu adalah hari lahir anak pertamaku. Tiga hari yang lalu, tepatnya tanggal 1 januari, hari lahir anakku yang kedua. Satu munajat yang selalu aku panjatkan: Semoga aku selalu bisa mensyukuri kelahirannya; menyemai positive thinking, memupuk positive feeling, serta mengalirkan positive motivation kepada mereka. Selamat ulang tahun anak-anak-ku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *