Jamu

…“Why ISO? ISO is for industrial management”. Ketika teman saya menyahut bahwa di kampusnya sudah menerapkan ISO pada konteks akademik, staff Griffith tadi lalu bilang, “ISO is good as a starting point to change university culture but we need more than that.”

____________________

Kamis 23 Juli yang lalu saya diminta menghadiri kunjungan salah seorang pejabat Direktorat Kelembagaan Dirjen Dikti Depdiknas yang sedang melakukan studi banding di Griffith University, Brisbane. Pejabat tersebut memperoleh Executive Endeavour Award dari pemerintah Australia selama 4 minggu.

Setelah mengunjungi beberapa perguruan tinggi di South Australia dan otoritas permutuan perguruan tinggi di Canberra, Di minggu keempat beliau datang ke Brisbane didampinvi program officer Indonesia Multilateral, Middle East, South and South East Asia Australian Governement Departement of Education Employment and Workplace Relations (DEEWR). Di Griffith, pejabat tersebut diterima oleh Vive Chancellor & President; Deputy Vice Chancellor (Academic); bagian Academic Registrar; Student Administration; Principal Policy Adviser to Vice Chancellor; Regional Manager, International Marketting; dan International Relations Officer. Selain saya, turut menyertai 2 mahasiswa PhD dan satu mahasiswa program master asal Indonesia.

Pada kesempatan itu president Griffith Uni menerangkan ada sekitar 38.000 mahasiswa (pertama kali beroperasi hanya seratuasan mahasiswa) yang tersebar di 5 kampus (dari hanya 1 kampus kecil) dalam 300-an lebih program studi. Dari tahun ke tahun Griffith Uni terus menunjukkan representasi internasional baik dari segi mahasiswa maupun staff. Mahasiswa Griffith berasal dari 122 negara, 60% staff-nya adalah non-Australian. Griffith Uni juga telah menjalin kerjasama dengan lebih dari 1000 institusi nasional maupun internasional.

Tentang Jaminan Mutu (JAMU), president dan beberapa staf yang lain menambahkan bahwa yang digunakan kampus ini mengacu pada AQF (Australian Quality Framework), sebuah sistem manajemen mutu yang digelindingkan oleh pemerintah Australia. Pada kontek ini Griffith menerapkan internal audit yang beradasar evaluasi student and staff satisfaction, juga external audit baik dari kalangan professional, organisasi profesi, atau external expert dari kampus atau lembaga lain yang kredible. Dari sekian kali audit, Griffith Uni selalu memperoleh hasil yang memuaskan. Yang menarik, AQF ternyata buah dari proses panjang dan gradual. Awalnya, tidak ada sistem penyeragaman mutu bagi kampus-kampus di Australia. Setiap kampus diberi kewenangan untuk menganut sistem mana yang lebih cocok. Para pengambil kebijakan menyadari bahwa kampus-kampus tersebut sudah ada jauh sebelum AQF yang mulai dikenalkan tahun 1994. Jelas, setiap universitas pasti memiliki sejarah panjang sendiri-sendiri dalam usaha memelihara mutu imput, proses dan output. Dengan proses yang bertahap ini tidak ada Perguruan Tinggi yang merasa terdikte. Upaya menerapkan jaminan mutu yang bisa dijadikan standard muncul dari kesadaran bersama, berkelanjutan dan tidak instant.

Setelah mendengar pengalaman Griffith Uni saya teringat model-model kebijakan top-down yang sering terjadi di kampung halaman, termasuk dalam hal penjaminan mutu. Saya teringat BAN dengan ‘proyek’ akreditasinya yang pada tahap tertentu menjadi “momok” bagi pengelola PT. Saya juga teringat kecenderungan ‘latah’ beberapa kampus untuk menerapkan sistem JAMU yang diadop dari dunia industri. Saat seorang teman menyampaikan bahwa di kampus dia saat ini sedang menerapkan standard ISO, salah satu vice chancellor adviser mengatakan kira kira begini: “why ISO? ISO is for industrial management”. Ketika teman saya tadi bilang bahwa di kampusnya sudah menerapkan ISO pada konteks akademik, staff Griffith tadi lalu bilang, “ISO is good as a starting point to change university culture but we need more than that.”

Jawaban staff tersebut mengingatkan saya saat berbincang dengan salah satu dosen UGM. Dia bilang, “perguruan tinggi itu berkutat dengan sumber daya manusia, bukan commercial items. Karena itu UGM menerapkan Continuous Improvement [CT] sebagai JAMU. Bila audit mutu yang diselenggarakan tiap tahun menemukan hasil yang telah memenuhi standard mutu, maka untuk tahun yang akan datang capaian mutunya akan ditingkatkan, dan begitu seterusnya.” Pokonya peningkatan mutu sebagai never ending process.

Sampai sini, ternyata JAMU itu bermacam-macam. Ada yang cap ISO, AQF, BAN, CT, dll serta berbagai produk lain yang tidak ber-merk. Kira-kira JAMU apa yang paling cespleng ya? Sepertinya belum ada yang mengalahkan kasiat JAMU Gendong deh.:))

Selamat meningkatkan mutu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *