Mencari Spiritualitas Otentik

Mengapa orang rela membayar mahal hanya untuk mengikuti spiritual training selama 1-3 hari? Mari kita tengok kelas-kelas Yoga, Meditasi, Emosional-Spiritual Training, zikir massal, serta berbagai gemblengan spiritual yang akhir-akhir ini menjamur di tanah air.

Program-progam “olah” spiritual tersebut ditawarkan oleh berbagai lembaga dengan beragam latar tradisi. Sebagian representasi dari sufisme dalam Islam, sebagian bersumber dari tradisi Tiongkok (Reiki, Fallun Ghong), sebagian dari tradisi India (Yoga, Meditasi), sebagian juga dari tradisi Jawa (ritual Ruwatan), dan sebagian lagi merupakan kombinasi antara Sufisme, managemen dan psikologi humanistik.

Yang menarik dari lembaga-lembaga penawar program spiritualitas tersebut adalah upaya korporatisasi layanan spiritual. Lembaga-lembaga tersebut memiliki kantor dan sekretariat yang representatif, staff yang terlatih dan cekatan, serta publikasi yang menawan di berbagai media massa. Selain itu, layanan jasa dan produk spiritual dikemas sedemikian rupa menjadi beragam paket. Manfaat dari mengikuti program spiritual juga selalu mereka expose dalam bentuk testimony para alumninya.

Bagaimana menjelaskan fenomena tersebut? Apakah program-program tersebut ditawarkan sebagai bisnis untuk memperoleh profit melalui komodifikasi spiritualitas atau murni upaya menyadarkan manusia Indonesia agar semakin menggali fitrah ruhaniyahnya?

Motif

Ada empat kemungkinan mengapa orang tertarik belanja spiritualitas: (1) Menggunakan spiritualitas sebagai sarana refressing di tengah kepenatan hidup. Bagi kelompok ini, mengikuti program-program spiritualitas ibarat rekreasi; (2) Memanfaatkan spiritualitas untuk memperoleh kesembuhan dari derita penyakit fisik maupun psikis. Kelompok kedua ini melihat praktik spiritual (zikir, meditasi, yoga, ruwatan, dll) sebagai sarana menyembuhkan jiwa yang sakit dan menyingkirkan segala bala. Jiwa yang sehat tentu akan mengantarkan tubuh yang sehat; (3) Menjalankan laku spiritual dalam rangka meraih sukses, rezki melimpah dan barokah. Kelompok ini meyakini laku spiritual merupakan sarana efektif mendekatkan diri pada Tuhan. Bila diri sudah dekat dengan Tuhan, maka Tuhan pasti akan mengabulkan segala keinginan hambaNya; dan (4) Mempraktikkan spiritualitas karena merasa “bosan” dengan ritual-ritual agama yang dirasa kering. Bagi kelompok ini, ber-spiritualitas-ria dirasa lebih ringan and enjoy sebab terbebas dari beban kewajiban menjalankan ajaran agama.

Komodifikasi

Isu perdagangan spiritualtas bukan hal baru. Carrette dan King (2005) dalam Selling Spirituality, the silent take over of religion mengkritisi proses terkooptasinya spiritualitas oleh cara pandang kapitalisme melalui proses korporatisasi dan individualisasi pelayanan jasa spiritual. Akibatnya, spiritualitas tidak lagi menjadi nilai luhur yang membingkai perilaku manusia, berubah menjadi nilai ekonomi. Secara halus spiritualitas digunakan sebagai alat memperkokoh paradigma neoliberal. Pada tahap inilah agama yang merupakan sumber nilai-nilai spiritual dikemas dan dikomodifikasi sedemikian rupa layaknya barang dagangan melalui proses reduksi: agama ditampilkan sebagai komoditas spiritual.

Hadirnya pusat-pusat spiritual di tengah kota berdampingan dengan kantor bisnis dan industri telah mendorong dunia usaha tersebut menggunakan jasa spiritual baik untuk memperbaiki mental dan mind set karyawannya maupun sebagai wahana implementasi program-program CSR. Namun penggunakan spiritualitas dalam bisnis dan industri ternyata sarat dengan kepentingan untuk melanggengkan agenda kapitalis mereka. Pada tahap inilah terjadi ironi luar biasa, agama kehilangan peran etis dan transformatif-nya sebab melalui perkawinanya dengan kapital ekonomi serta proses komodifikasi layanan jasa dan produk spiritual, elemen-elemen agama hanya digunakan sebagai alat pembenar “the ideology of consumerism and corporate capitalism” (Carrette & King, 2005, 170).

Narsis

Selain spiritualitas pasar yang terus menjamur dengan gegap gempita, ada juga kelompok spiritualitas yang mencoba melawan arus. Mereka mengusung spiritualitas sebagai sarana melepaskan diri dari ikatan tradisi keagamaan. Kritik agama mendominasi wacana mereka. Meski demikian, dengan sadar mereka tetap meyakini keberadaan Tuhan. Bagi mereka “spirituality yes, organized religion no”.

Mengingat praktik keagamaan banyak yang didomplengi kepentingan lain, menurut pengusung model ini, spiritualitas harus lepas dari ikatan-ikatan agama. Sayangnya, model subjective-life spirituality –meminjam istilahnya Heelas– yang menolak bentuk-bentuk tradisi dan organisasi keagamaan ini dalam praktiknya terjebak pada narsisme spiritual. Segala bentuk esensi dan expresi spiritual dapat digali dalam diri pribadi setiap orang.

Otentik

Eksistensi spiritualitas non agama di atas merupakan kritik tajam tidak hanya bagi agama-agama yang hanya mengedepankan formalisme dan lupa terhadap isi dan visi yang sebenarnya, namun juga bagi spiritualitas berbasis agama yang telah terjebak praktik komodifikasi dan korporatisasi. Karena itulah Carrette dan King (2005) di bagian akhir bukunya menaruh harapan besar akan munculnya aktivisme keagamaan yang bisa mengolah spiritualitas dengan tetap memelihara peran transformatifnya: mencerahkan, tidak melenakan, anti penindasan, tidak kapitalis, pro keadilan, berjiwa sosial, tidak narsis dan tentu saja rasional. Spiritalitas agama yang semacam ini saya sebut spiritualitas otentik.

Revivalisasi agama melalui jalan spiritual otentik, karena itu, menjadi niscaya. Bila selama ini revivalisme agama cenderung dimaknai sebagai kebangkitan kembali agama dalam konteks politik dan pertarungan identitas baik di aras nasional maupun global. Maka, jalan spiritual otentik akan memberikan peluang agama juga agamawan untuk tampil sebagai kekuatan sipil yang pro kemajuan namun ramah pada lingkungan, beridentitas jelas namun toleran dan menghargai perbedaan. Jalan spiritual otentik agama, dengan demikian, bisa menjadi jawaban terhadap kritik spiritualist tanpa agama sekaligus “meluruskan” praktik-praktik komodifikai dan korporatisasi spiritual. wallahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *