Menjadi Indonesia di Manca Negara

Dengan balutan busana yang telah diakui UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia, batik, semua panitia dan Indonesian Permanent Resident (PR) tersenyum, bahu-membahu, dan bangga menjadi warga Indonesia. Mereka semua merdeka menghadirkan Indonesia di negeri tetangga.

Status minoritas bisa jadi salah satu pemicu “militansi” sekaligus kebersamaan. Perasaan senasib di negeri orang telah merekatkan sekat-sekat yang biasanya berjarak di negari asal, lebur jadi satu dalam balutan patriotisme menghadirkan identitas Indonesia. Tidak ada sentimen ras, suku, agama, maupun golongan. Hanya ada satu: INDONESIA. Itu yang tampak ketika komunitas Indonesia di Brisbane yang diorganisir ISAGU (Indonesian Student Association of Griffith University) menyelenggarakan Indonesian Day di kampus tersebut, Kamis 5 Agustus 2010.

Salah satu sudut Griffith University, undercroft di sebelah library disulap menjadi Indonesia. Bendera merah putih, peta nusantara, serta pernik-pernik kerajinan menghiasa arena tersebut. Aneka lomba rakyat menjlenag 17 Agustus seperti lari karung, tarik tambang, makan krupuk, balap bakiak, sepak bola sarung, serta lari pingpong digelar. Pentas tari saman, tari lilin, tari merak, poco-poco dan sajojo hingga musik angklung pun dihadirkan. Tidak ketinggalan, kulinar khas nusantara, sate, juga dijajakan. Walhasil, 1200 tusuk sate ukuran jumbo ludes terjual, lengkap dengan es teller-nya.

Meski bertajuk Indonesian Day, namun nuansa internasional cukup kentara. Wajah-wajah Bule, China, Afrika, India, Arab, dll., memadati acara yang digelar dari jam 10 – 14.30 tersebut. Tidak satupun raut muka yang hadir tampak murung. Dengan balutan busana yang telah diakui UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia, batik, semua panitia dan Indonesian Permanent Resident (PR) tersenyum, bahu-membahu, dan bangga menjadi warga Indonesia. Mereka semua merdeka menghadirkan Indonesia di negeri tetangga.

Beberapa hari sebelumnya, saat mempersiapkan ubo rampe kegiatan itu, seorang teman menyampaikan: “Iya ya, justru ketika sedang tidak berada di Tanah Air nasionalisme kita muncul. Rasa-rasanya belum pernah saya bersibuk-sibuk ria menjalang peringatan 17 Agustus di kampung. Biasanya anak-anak saya yang pasang bendera merah putih kecil-kecl macam gini.” Begitulah, kebanggaan menjadi orang Indonesia itu kadang muncul saat kita menatapnya dari luar Nusantara.

Dirgahayu Indonesia!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *