Pawai Budaya Muhammadiyah

Minggu lalu, tepatnya 20 Mei 2010, SD tempak anak saya belajar menyelengarakan Pawai Budaya dalam rangka menyambut 4 moment sekaligus: hari pendidikan nasional, hari kebangkitan nasional, Milad SD Muhammadiyah Bodon yang ke-96, serta menyongsong Muktamar 1 Abad Muhammadiyah ke 46 di Yogyakarta awal Juli yang akan datang.

Selain pawai andong, kegiatan itu juga dimeriahkan dengan lomba peragaan busana Nusantara serta pemilihan Dimas dan Diajeng antar kelas. Tidak kurang 120 andong dihias dengan berbagai atribut, disesaki oleh anak-anak SD yang mengenakan pakaian adat Jawa, Riau, Banjar, Bali, Minang, Palembang, dll. Replika candi prambana dan Tugu Jogaja pun juga ikut diarak.

Anak saya ditunjuk menjadi Dimas mewakili kelasnya. Ia mengenakan pakaian merah adat minang. Dipilihnya adat Minang ini berdasar alasan praktis saja. Semula akan mengenakan adat Jawa, namun menjelang H-1 pakaian yang ukurannya pas buat anak saya tidak ketemu. Satu-satu yang yang cukup ya adat Minang itu.

Selama ini even-even budaya dalam rangka menyambut peringatan hari-hari besar nasional sudah biasa. Namun Pawai Budaya SDM Bodon ini menjadi luar biasa sebab diselengarakan juga dalam rangka milad SD Muhammadiyah itu sendiri serta menyongsong Muktamar Muhammadiyah. Bukankah selama ini Muhammadiyah sering diopinikan miskin budaya dan cenderung tidak apresiatif terhadap khazanah budaya lokal dan Nusantara?

Geliat apresiasi budaya di kalangan Muhammadiyah ini cukup menarik, sebab ia hadir di tengah menguatnya arus puritan di dalamnya. Apakah ini menandakan respon dari “dakwah kultural” yang hampir mati suri itu? Atau, ini menunjukkan lanjutan dari contestasi antara “puritanisme” dan “culturalisme” menjelang Muktamar?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *