Sang Pengkhianat

Umumnya, orang merasa sakit bila dikhianti. Namun akhir-akhir ini banyak yang, tanpa mereka sadari, justru merasa senang dan bangga. Dengan suka cita mereka bahkan merayakan kehadiran ’sang pengkhianat’ itu.

Mau tahu siapa pengkhianat dan penyambut setia kehadirannya? Simak refleksi berikut ini.

Ketika sambungan telepon kabel belum menjangkau ke semua rumah, hand phone (HP) masih menjadi barang mewah yang hanya dimiliki segelintir orang, wartel adalah pilihan utama masyarakat untuk berkomunikasi jarak jauh dengan kolega dan keluarganya. Usaha wartel pada waktu itu betul-betul jadi primadona. Sayangnya, hanya mereka yang punya modal dan koneksi dengan otoritas perusahaan telekomunikasi lah yang bisa mengakses bisnis yang sangat menguntungkan waktu itu.

Belakangan kran membuka wartel, kiostel, serta kiospon terbuka lebar. Syarat-syarat ketat dan njelimet yang dulu ada dihilangkan. Hanya dengan modal kurang dari 6 juta, masyararakat sudah bisa bisnis telekomunikasi dengan satu KBU. Wartel dan kiostel dengan mudah bisa dijumpai hampir di tiap RT dan lokasi–lokasi strategis.

Belum cukup lama para pemilik wartel itu mencari peruntungant tiba-tiba pasar telekomunkasi dibanjiri oleh telepon selluler. Saat ini, hampir semua orang punya HP. Tidak sedikit diantara mereka bahkan punya lebih dari satu. Jasa wartel tidak dibutuhkan lagi. Jaringan telepon seluler telah menjangkau hingga ke pelosok-pelosok. HP dengan harga murah pun mudah didapat. Maka tidak sedikit wartel, kiostel, maupun kiospun yang gulung tikar. Saya yakin, banyak diantara mereka yang belum balik modal, terutama para pemain baru. Kasihan masyarakat “awam” itu, mereka dikhianati teknologi.

Pengkhianatan teknologi juga terjadi pada kasus gulung tikarnya pengusaha tekstil ATBM tergilas oleh pabrik tekstil dengan mesin-mesin modern; menghilangnya andong dan dokar karena masyarakat lebih memilih sepeda motor atau mobil; jasa pengetikan manual yang tergeser oleh computer dan printer; surutnya usaha penyewaan komputer sebab PC dan laptop bukan lagi jadi barang mewah, tukang poto yang tidak laku sebab hampir tiap orang kini punya camera digital; redupnya usaha warnet setelah muncul teknologi wifi, GPRS hingga HSDP yang disediakan oleh berbagai profider telepon seluler; dan masih banyak lagi. Saya yakin pola pengkhinatan dan kanibal teknologi baru terhadap yang lama ini akan terus berlangsung. Entah sampai kapan.

Kalau dipikir-pikir, teknologilah si pengkhianat sejati itu. Ia selalu mengkhianati pengikutnya. Tidak ada kata setia dalam teknologi. Setia berarti siap ditikam si pengkhianat.

Bila anda termasuk maniak teknologi baru, sebut saja selalu ganti HP bila ada produk baru tanpa bisa memanfaatkannya secara optimal, besar kemungkinan anda salah satu penyambut setia hadirnya “sang penkhianat” itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *