Mencari Spiritualitas Otentik

Mengapa orang rela membayar mahal hanya untuk mengikuti spiritual training selama 1-3 hari? Mari kita tengok kelas-kelas Yoga, Meditasi, Emosional-Spiritual Training, zikir massal, serta berbagai gemblengan spiritual yang akhir-akhir ini menjamur di tanah air.

Program-progam “olah” spiritual tersebut ditawarkan oleh berbagai lembaga dengan beragam latar tradisi. Sebagian representasi dari sufisme dalam Islam, sebagian bersumber dari tradisi Tiongkok (Reiki, Fallun Ghong), sebagian dari tradisi India (Yoga, Meditasi), sebagian juga dari tradisi Jawa (ritual Ruwatan), dan sebagian lagi merupakan kombinasi antara Sufisme, managemen dan psikologi humanistik. Continue reading “Mencari Spiritualitas Otentik”

Hari ini, tujuh tahun yang lalu

Maka nikmat Tuhan yang mana (lagi) yang akan engkau dustakan? Demikian salah satu ayat yang diulang hingga 30 kali dalam Surat Ar-Rahman.

Mengapa Allah mengulang-ulang ayat tersebut? Apakah manusia begitu bebal hingga diingatkan berkalai-kali? Saya yakin Allah tahu persis dengan makhluk ciptaannya ini yang mudah berbuat salah dan lupa. Karena itulah peringatan dalam bentuk kalimat tanya itu Allah firmankan berulang kali, meski kenyataanya hanya sedikit dari manusia yang mau bersyukur (wa qaliilun min ‘ibaadiyas-syakuur). Continue reading “Hari ini, tujuh tahun yang lalu”

Sang Pengkhianat

Umumnya, orang merasa sakit bila dikhianti. Namun akhir-akhir ini banyak yang, tanpa mereka sadari, justru merasa senang dan bangga. Dengan suka cita mereka bahkan merayakan kehadiran ’sang pengkhianat’ itu.

Mau tahu siapa pengkhianat dan penyambut setia kehadirannya? Simak refleksi berikut ini.

Ketika sambungan telepon kabel belum menjangkau ke semua rumah, hand phone (HP) masih menjadi barang mewah yang hanya dimiliki segelintir orang, wartel adalah pilihan utama masyarakat untuk berkomunikasi jarak jauh dengan kolega dan keluarganya. Usaha wartel pada waktu itu betul-betul jadi primadona. Sayangnya, hanya mereka yang punya modal dan koneksi dengan otoritas perusahaan telekomunikasi lah yang bisa mengakses bisnis yang sangat menguntungkan waktu itu. Continue reading “Sang Pengkhianat”

Dakwah, Debat & Kebebesan Berekspresi

Ud’uu ilaa sabiili rabbika bilhikmati wa mau’idhati al-hasanati wa jaadil-hum billaatii hiya ahsan. (Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan cara yang bijak (hikmah) dan peringatan yang baik-baik, lalu debatlah dengan cara yang terbaik).

Ayat diatas sering dijadikan rujukan tentang metode dan strategi berdakwah: yang pertama dengan menyeru pada jalan Allah secara bijak (bi al-hikmah), kedua pemberian wejangan/nasihat yang baik-baik (mau’idha hasanah), dan yang ketiga, bila masih nggak mau juga, maka debatlah namun dengan cara yang paling baik, tidak menimbulkan prahara (jaadilhum billati hiya ahsan). Ketiga strategi tersebut seoalah berlaku squence, 1, 2, dan 3. Padahal, kalau dicermati ayat tersebut mengandung dua perintah. Pertama adalah perintah dakwah dengan cara menyeru dan memberi peringatan, yang kedua adalah perintah untuk mendebat dengan cara yang sebaik mungkin. Continue reading “Dakwah, Debat & Kebebesan Berekspresi”

Mengajar Islamologi Mahasiswa Tiongkok

Ceritanya, tiga miggu yang lalu saya menyambangi sekretariat Center for Teaching Staff Development (CTSD) di lantai 3 Gedung Pusat Studi UIN Sunan Kalijaga. Direktur CTSD yang akan bertugas ke Sorong selama 3 minggu tampak surprise melihat saya datang siang itu. Kukatakan padanya kalau saya sedang riset lapangan di Jogja. Mengetahui saya punya waktu agak luang pada akhir pekan, setengah kegiraangan dia meminta saya untuk mengganti mengajar Studi Islam pada mahasiswa asal Tiongkok yang tengah mengambil program Sandwich di Universitas Ahmad Dahlan, salah satu Perguruang Tinggi Muhammadiyah di Yogyakarta.

Tidak satupun mahasiswa asal Tiongkok di kelas tersebut Muslim, karena itu materi Keislaman yang disampaikan pun lebih ditekankan pada Islamologi. Islam Ditinjau Dari Berbagai Aseknya karya Harun Nasution dipandang pas sebagai rujukan untuk menjelaskan seluk beluk agama Islam bagi non Muslim. Buku tersebut menguraikan Islam tidak secara doktriner, tapi mengupasnya dari berbagai sudut pandang seperti historis, sosiologis serta filosofis. Meski jauh dari kesan indroktinatif, namun karya doctor alumni McGil Univesity itu tetap diperkaya dengan nukilan-nukilan dalil naqli dari ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits untuk menunjukkan bahwa paparan historis, sosiologis dan filosofis dalam buku ini tidak bertentangan dengan nash . Continue reading “Mengajar Islamologi Mahasiswa Tiongkok”

Between Islam, the market and spiritual revolution

Ahmad Munjid’s article “Thick Islam and Deep Islam” (The Jakarta Post, Aug. 16, 2009) was responded to by Hilman Latief’s “Cosmopolitan Muslims: Urban vs. Rural Phenomenon” (the Post Aug. 29, 2009).

Although both Munjid and Hilman shared their ideas on the more obvious prevalence of Islamic identity among Indonesian Muslims, they differed in terms of categorization between urban and rural as well as “thick” and “deep” Islam.

Munjid noted that “Thick Islam” was an urban phenomenon, and that “Deep Islam” was a rural one, whereas Hilman argued that the thick and the deep could not be generalized based on urban and rural categories. Continue reading “Between Islam, the market and spiritual revolution”

Taqabbalallaahu Minnaa wa Minkum

“Dan segeralah mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orangg-orang bertakwa.

Yaitu mereka:

1) yang berinfak di waktu lapang atau sempit,
2) yang menahan amarahnya,
3) yang memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan” (Q,s. 3:133-134).

Taqabbalallaah minnaa wa minkum. Selamat meraih predikat tagwa. Maaf segala khilaf. (muttaqin-indah-auzi’-naufal)

Persidangan Mahasiswa

Persidangan dengan “terdakwa” seorang ayah dari dua anak digelar Jum’at, 4 September 2009 pukul 3 sore waktu Brisbane. Dihadapan 3 professor dan beberapa mahasiswa program doktor terdakwa diminta mepertanggungjawaban atas semua yang telah ia tulis. Bahkan, yang baru saja ia omongkan dihadapan pengunjung sore itu juga mereka pertanyakan.

Ia sudah berada di dalam ruang Millenium gedung Macrossan bebera menit sebelum mereka datang. Tumpukan “alat bukti” dan “alibi” tertata di atas meja. Sebuah laptop dan LCD projector disiapkan untuk menampilkan barang bukti tersebut. Wajahnya tampak gugup; sesekali ia membenahi pakaian yang dikenakan: baju putih bermotif kotak dimasukkan dalam celana kantoran dan dibalut jaket hitam semi jas. Perasaannya makin bertambah “nano-nano” ketika melihat lelaki tegap 60-an tahun masuk ke ruang sidang. Dia adalah “hakim” external dari kampus yang usianya jauh lebih tua dari tempat terdakwa menuntut ilmu.

Ramadhan bagi Minoritas Muslims

The more temptation we face, the more reward we will have. Saat sedang asyik mendengarkan kuliah di kelas; datang mahasiswi dengan pakaian musim panas yang “compang-camping & tidak lengkap.” Dia langsung duduk di sampingku, membuka tas, mengeluarkan minuman kaleng lalu menenggaknya, glek glek glek…. “uh segarnya…” batin saya.

Kadang saya berfikir, puasa umat Islam Indonesia itu terlalu “manja.” Atas nama menghormati bulan Ramadhan tempat-tempat hiburan dan warung makan dihimbau tutup. Tempat maksiat digerebek. Operasi miras dilakukan di berbagai daerah, hotel dan rumah-rumah bordil pun dirazia. Continue reading “Ramadhan bagi Minoritas Muslims”

Doa Pemimpin Terpilih

Dia terpilih dengan suara 100 persen. Meskipun ketika itu ada juga propaganda supaya dia jangan terpilih, rupanya ia berhasil.

Sehari sehabis konggres, yaitu tanggal 13 Januari 1941 kelihatan dia mengepit tasnya dari kantor H.B. menuju kampung Kauman. Kemana dia pergi? Mengapa seorang saja? Dia pergi menemui….. Nyai Dahlan, istri almarhum K.H.A. Dahlan!