Dari Kedermawanan Menuju Kewirausahaan Sosial

Salah satu pertanyaan yang sering muncul terkait menjamurnya lembaga-lembaga filantropi Islam akhir akhir ini, sebagaimana yang dikupas dalam buku Filantropi dalam Masyarakat Islam (2008), adalah  sejauh mana LAZIS-LAZIS tersebut berhasil memberdayakan faqir miskin?

Jangan-jangan munculnya lembaga-lembaga tersebut justru menciptakan ketergantungan dan melanggengkan kemiskinan? Pertanyaan ini muncul sebab tidak jarang pentasharufan dana zis masih bersifat karikatif, adhoc dan sebatas untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Continue reading “Dari Kedermawanan Menuju Kewirausahaan Sosial”

Kearifan Lokal; Seberapa Arif?

Tidak sedikit yang menganggap budaya lokal (local culture) sebagai simbol keterbelakangan, penghalang kemajuan dan tidak sesuai dengan kemajuan. Untuk menjadi modern, segala hal yang berbau lokal mesti ditanggalkan. Lambat laun budaya lokal kehilangan pesonanya, bahkan bagi masyarakat pemiliknya. Ironisnya, sayap puritan agama-agama besar (world religions), dalam batas tertentu, ternyata turut berkontribusi dalam meminggirkan budaya lokal tersebut. Tidak jarang agama-agama besar dunia menilai tradisi lokal sebagai hal yang mengotori praktik keberagamaan yang autentik.

Asumsi tersebut berkembang pada abad 20an, ketika modernitas menjadi perspektif dominan dalam mengkaji kebudayaan. Kini, saat modernitas dengan developmentalism theory-nya mendapat kritik, serta lahirnya teori dan perspektif baru dalam mengkaji kebudayaan –seperti post-modernism, post-traditionalism, multiple-modernity–, kebudayaan lokal seolah menemukan momentum untuk bangkit. Budaya lokal tidak lagi dipandang sebagai bentuk keterbelakangan, namun sebagai sumber kearifan hidup atau local wisdom. Kritik terhadap masyarakat modern yang kering secara spiritual akibat terlalu bersandar pada rasionalitas telah mendorong sebagian manusia modern mencari alternatif. Alternatif tersebut mereka temukan dalam tradisi lokal yang dinilai memiliki kekayaan luar biasa dalam memberikan hikmah hidup di balik ekpresinya yang sederhana. Continue reading “Kearifan Lokal; Seberapa Arif?”

Ukhuwah Sejak dalam Pikiran

Mau dan mampukah kita menyapa, bergaul, bekerjasama, atau bahkan menolong orang yang berbeda dengan kita? Beragam perbedaan, mulai dari latar belakang keluarga, pendidikan, agama, suku, jenis kelamin, hobby, pekerjaan, partai politik, dll.; bisakah kita secara ikhlas menerima kehadirannya di sekitar kita?

Setidaknya ada empat kategori cara memandang perbedaan ini.

  1. Pertama adalah orang yang menganggap segala yang berbeda dengan dirinya sebagai musuh.
  2. Kedua adalah orang yang tidak peduli terhadap semua yang berbeda darinya, sekedar menyapanya pun tidak mau.
  3. Ketiga, orang yang menganggap perbedaan itu sebagai alasan untuk menjalin kerjasama.
  4. Dan keempat, orang yang memandang perbedaan sebagai modal untuk saling memperkaya.

Dua kategori pertama tersebut merupakan cara pandang negatif terhadap perbedaan, sedangkan dua yang terakhir sebagai cara pandang positif. Kedua cara pandang tersebut berimplikasi terhadap keharmonisan hidup di alam yang majemuk ini. Secara internal, cara pandang tersebut juga berimplikasi pada kualitas persatuan atau ukhuwah umat Islam. Sulitnya membangun ukhuwah diantara umat Islam yang terdiri dari berbagai aliran, faham dan golongan dipengaruhi oleh masih kentalnya cara pandang negatif terhadap perbedaan di kalangan umat Islam. Kualitas ukhuwah yang berjalan selama ini, apakah masih sekedar basa-basi atau sudah mewujud dalam ukhuwah yang autentik, juga dipengaruhi oleh mind set kaum muslimin dalam memandang perbedaan dan keanekaragaman di kalangan umat Islam. Continue reading “Ukhuwah Sejak dalam Pikiran”

Excuse Me, Sorry & Thank You

Pernahkah Anda mendengar keluhan bahwa anak-anak zaman now mulai kehilangan sopan santun? Unggah-ungguh mereka sudah jauh berbeda dengan anak-anak genereasi zaman old. Jangankan bersikap hormat kepada yang lebih tua, sekedar kata-kata permisi dan maaf-pun sudah jarang terucap. Mengapa defisit sopan santun tersebut terjadi pada generasi kita yang selama ini masyarakatnya dikenal ramah dan sopan? Adakah yang salah dalam proses pendidikan moral dan etika selama ini?

Saat kembali ke Australia dari riset lapangan di Jogja tahun 2010, saya kaget dengan perubahan drastis balita seorang teman Indonesia yang juga sedang studi S3 di negeri Kangguru tersebut. Enam bulan sebelum saya menuju Jogja anak tersebut dikenal “extra aktif” yang bahkan beberapa teman menyebutnya, maaf, sebagai trouble maker: suka merebut mainan teman sebaya, usil pada yang lebih tua, dan sering “jag-jagan” lompat dari satu kursi ke kursi lain atau naik meja di ruang tamu. Continue reading “Excuse Me, Sorry & Thank You”

Saintifikasi Agama

Merujuk pada Ian G. Barbour (2000) hubungan sains (ilmu pengetahuan) dan agama dapat dipetakan menjadi empat pola. Pertama adalah pola konlfik yang melihat antara sains dan agama saling bertentengan. Sains berbasis penemuan ilmiah yang empirik, obyektif  dan sekuler, sedangkan agama itu sangat subyektif, tidak empirik, dan teologis. Kedua adalah pola mandiri atau independent yang menganggap antara ilmu dan agama terpisah, antara keduanya tidak ada kaitannya satu sama lain. Masing-masing berdiri sendiri, tidak saling menyapa. Ketiga adalah pola dialog yang menilai antara sains dan agama bisa saling menyapa dan berdialog. Sedangkan yang keempat adalah pola integrasi yang menjelaskan bahwa antara sains dan agama tidak hanya dapat saling berdialog namun lebih dari itu juga dapat berinterkoneksi dan berintegrasi, saling mengisi satu sama lain.

Keempat pola hubungan sains dan agama tersebut memiliki basis epistemologi sendiri-sendiri dan tentu berimplikasi pada model aksiologinya. Misalnya, kelompok yang perparadigma antara sains dan agama itu berdiri sendiri-sendiri akan memisahkan pengetahuan menjadi ilmu agama dan ilmu umum. Pengembangan ilmu umum (baca: sains) itu bebas nilai, tanpa batas, untuk urusan duniawi; sedangkan ilmu agama untuk urusan akherat. Kelompok yang berparadigma antara sains dan agama saling bertentangan bahkan bisa saling serang: agawaman menganggap sains berpotensi membawa manusia makin jauh dari Tuhan, dan sebaliknya ilmuwan mengaggap agama sebagai belenggu kemajuan. Sebaliknya, kelompok yang menilai antara sains dan agama bisa saling menyapa baik pada level dialog atau bahkan integrasi, mencoba mengembangkan sains yang bertanghungjawab, dengan mempertimbangkan nilai kemanusiaan dan ketuhanan di dalamnya. Dari sini kemudian muncul ide-ide islamisasi ilmu serta integrasi dan interkoneksi keilmuan. Continue reading “Saintifikasi Agama”

Tabayun & Cerdas Ber-MEDSOS (Ber Sosial Media)

Dunia dalam genggaman. Itulah ilustrasi kemajauan teknologi informasi saat ini. Segala macam peristiwa yang terjadi di berbagai belahan dunia bisa diketahui orang seantero bumi hanya dalam hitungan detik melalui perangkat teknologi. Dengan gadget telepon seluler cerdas (smart phone) di tangan, kita tidak hanya sebagai konsumen informasi, namun juga bisa menjadi perantara, bahkan juga produsen berbagai berita dari suatu peristiwa.

Menjamurnya media informasi online baik yang resmi dari portal kantor berita maupun yang berseliweran di sosial media dari para netizen mendorong orang berlomba ingin menyajikan informasi secepat mungkin. Di dorong oleh adagium “knowledge is power,” bahwa menguasai arus pengetahuan dan informasi adalah modal utama untuk menguasai dunia, orang pun berlomba memperoleh informasi dan pengetahuan secepat mungkin. Sayangnya, tidak sedikit dari konsumen informasi yang kurang menyadari bahwa sebagai bagian dari upaya mempengaruhi pikiran pembaca berita, produsen berita mencoba untuk menyajikan informasi, peristiwa, dan gagasan dengan framing yang sealur dengan kepentingannya. Continue reading “Tabayun & Cerdas Ber-MEDSOS (Ber Sosial Media)”

The Power of Forgiveness

Mendengar hal itu Hasan lalu berkata pada budaknya bahwa mulai detik itu juga ia bebas, menjadi manusia merdeka.

Tidak hanya itu, Hasan bahkan memberinya 400 keping dirham. Bila dikurskan dengan nilai rupiah saat ini, 400 dirham itu sama dengan: 400 x Rp. 37.000,00 = Rp. 14.800.000,00 !!!)

Ayat 133-134 QS. Ali Imran sedemikian popular pada bulan Syawal, menjadi ayat pilihan yang paling banyak dibaca dan diulas oleh para ustadz, kyai, dan mubaligh di berbagai forum pengajian, taklim, maupun seremonial. Di acara syawalan atau halal bil-halal, dua yat ini nyaris tidak pernah absen dibaca sebagai “legitimasi” tradisi saling memaafkan. Continue reading “The Power of Forgiveness”

FPI Brisbane

… menjadi warga FPI Brisbane memperoleh banyak manfaat. …Selain silaturahmi fisik kita pun bersilaturahmi lidah,… bersama-sama menikmati anake kuliener dari berbagai Negara sahabat (Arab, Afrika, Pakistan, India, Indonesia, dll) … Sebuah ukhuwah multicultural yang lengkap, nikmat dan indah.

“Mangan ora mangan sing penting ngumpul (makan tidak makan yang penting berkumpul).” Ungkapan itu sering dilekatkan pada mayarakat Indonesia, terutama Jawa, yang gemar berkumpul baik dalam suasana suka maupun duka. Continue reading “FPI Brisbane”

Menjadi Indonesia di Manca Negara

Dengan balutan busana yang telah diakui UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia, batik, semua panitia dan Indonesian Permanent Resident (PR) tersenyum, bahu-membahu, dan bangga menjadi warga Indonesia. Mereka semua merdeka menghadirkan Indonesia di negeri tetangga.

Status minoritas bisa jadi salah satu pemicu “militansi” sekaligus kebersamaan. Perasaan senasib di negeri orang telah merekatkan sekat-sekat yang biasanya berjarak di negari asal, lebur jadi satu dalam balutan patriotisme menghadirkan identitas Indonesia. Tidak ada sentimen ras, suku, agama, maupun golongan. Hanya ada satu: INDONESIA. Itu yang tampak ketika komunitas Indonesia di Brisbane yang diorganisir ISAGU (Indonesian Student Association of Griffith University) menyelenggarakan Indonesian Day di kampus tersebut, Kamis 5 Agustus 2010. Continue reading “Menjadi Indonesia di Manca Negara”

Peradaban Utama=Khaira Ummah+Ummatan Wasatha

Agar Muhammadiyah benar-benar menjadi bagian dari khaira ummah, ummatan wasatha dan pelopor peradaban utama, maka radius pergaulan warganya perlu diperluas. Tidak hanya pergaulan secara fisik namun juga secara intelektual dan spiritual. Jalinan silaturahim kader dan aktivisnya diperlebar dan sinergitasnya degan berbagai komponen kebajikan di dipererat. Perbedaan pandangan bukan alasan untuk saling menyingkirkin dan menegasikan namun untuk memperkokoh persaudaran.

Dengan modal khaira umah dan ummatan wasatha inilah peradaban utama bisa terealisir. Bila tidak, ia hanya akan menjadi slogan yang manis diucapkan, penghias ruangan, dan alat gagah-gagahan di berbagai kegiatan. Continue reading “Peradaban Utama=Khaira Ummah+Ummatan Wasatha”