Excuse Me, Sorry & Thank You

Pernahkah Anda mendengar keluhan bahwa anak-anak zaman now mulai kehilangan sopan santun? Unggah-ungguh mereka sudah jauh berbeda dengan anak-anak genereasi zaman old. Jangankan bersikap hormat kepada yang lebih tua, sekedar kata-kata permisi dan maaf-pun sudah jarang terucap. Mengapa defisit sopan santun tersebut terjadi pada generasi kita yang selama ini masyarakatnya dikenal ramah dan sopan? Adakah yang salah dalam proses pendidikan moral dan etika selama ini?

Saat kembali ke Australia dari riset lapangan di Jogja tahun 2010, saya kaget dengan perubahan drastis balita seorang teman Indonesia yang juga sedang studi S3 di negeri Kangguru tersebut. Enam bulan sebelum saya menuju Jogja anak tersebut dikenal “extra aktif” yang bahkan beberapa teman menyebutnya, maaf, sebagai trouble maker: suka merebut mainan teman sebaya, usil pada yang lebih tua, dan sering “jag-jagan” lompat dari satu kursi ke kursi lain atau naik meja di ruang tamu. Continue reading “Excuse Me, Sorry & Thank You”

Peradaban Utama=Khaira Ummah+Ummatan Wasatha

Agar Muhammadiyah benar-benar menjadi bagian dari khaira ummah, ummatan wasatha dan pelopor peradaban utama, maka radius pergaulan warganya perlu diperluas. Tidak hanya pergaulan secara fisik namun juga secara intelektual dan spiritual. Jalinan silaturahim kader dan aktivisnya diperlebar dan sinergitasnya degan berbagai komponen kebajikan di dipererat. Perbedaan pandangan bukan alasan untuk saling menyingkirkin dan menegasikan namun untuk memperkokoh persaudaran.

Dengan modal khaira umah dan ummatan wasatha inilah peradaban utama bisa terealisir. Bila tidak, ia hanya akan menjadi slogan yang manis diucapkan, penghias ruangan, dan alat gagah-gagahan di berbagai kegiatan. Continue reading “Peradaban Utama=Khaira Ummah+Ummatan Wasatha”

Amanah itu

Amanah untuk berrhutbah idul fitri di lapangan Ponjong hari Rabu yang lalu telah saya tunuikan. Secara umum khutbah berjalan lancar, tidak terlalu lalu lama dan tidak terlalu cepat, cukupan lah. Jamaah saya lihat juga mengikuti dengan seksama.

Sayangnya, seusai khutbah, jamaah putri pada mengeluh bahwa mereka tidak bisa mengikuti khutbah dengan baik. Sound system yang dipasang panitia kurang menjangkau mereka yang berada 250 meter di depan saya. Setelah dievaluasi ternyata salon besar hanya diletakkan di depan jamaah putra; tidak ada satupun kontrol salon atau sender yang smestinya dipasang dibelakang jamaah putra, di depan jamaah putri.