Ukhuwah Sejak dalam Pikiran

Mau dan mampukah kita menyapa, bergaul, bekerjasama, atau bahkan menolong orang yang berbeda dengan kita? Beragam perbedaan, mulai dari latar belakang keluarga, pendidikan, agama, suku, jenis kelamin, hobby, pekerjaan, partai politik, dll.; bisakah kita secara ikhlas menerima kehadirannya di sekitar kita?

Setidaknya ada empat kategori cara memandang perbedaan ini.

  1. Pertama adalah orang yang menganggap segala yang berbeda dengan dirinya sebagai musuh.
  2. Kedua adalah orang yang tidak peduli terhadap semua yang berbeda darinya, sekedar menyapanya pun tidak mau.
  3. Ketiga, orang yang menganggap perbedaan itu sebagai alasan untuk menjalin kerjasama.
  4. Dan keempat, orang yang memandang perbedaan sebagai modal untuk saling memperkaya.

Dua kategori pertama tersebut merupakan cara pandang negatif terhadap perbedaan, sedangkan dua yang terakhir sebagai cara pandang positif. Kedua cara pandang tersebut berimplikasi terhadap keharmonisan hidup di alam yang majemuk ini. Secara internal, cara pandang tersebut juga berimplikasi pada kualitas persatuan atau ukhuwah umat Islam. Sulitnya membangun ukhuwah diantara umat Islam yang terdiri dari berbagai aliran, faham dan golongan dipengaruhi oleh masih kentalnya cara pandang negatif terhadap perbedaan di kalangan umat Islam. Kualitas ukhuwah yang berjalan selama ini, apakah masih sekedar basa-basi atau sudah mewujud dalam ukhuwah yang autentik, juga dipengaruhi oleh mind set kaum muslimin dalam memandang perbedaan dan keanekaragaman di kalangan umat Islam. Continue reading “Ukhuwah Sejak dalam Pikiran”

Excuse Me, Sorry & Thank You

Pernahkah Anda mendengar keluhan bahwa anak-anak zaman now mulai kehilangan sopan santun? Unggah-ungguh mereka sudah jauh berbeda dengan anak-anak genereasi zaman old. Jangankan bersikap hormat kepada yang lebih tua, sekedar kata-kata permisi dan maaf-pun sudah jarang terucap. Mengapa defisit sopan santun tersebut terjadi pada generasi kita yang selama ini masyarakatnya dikenal ramah dan sopan? Adakah yang salah dalam proses pendidikan moral dan etika selama ini?

Saat kembali ke Australia dari riset lapangan di Jogja tahun 2010, saya kaget dengan perubahan drastis balita seorang teman Indonesia yang juga sedang studi S3 di negeri Kangguru tersebut. Enam bulan sebelum saya menuju Jogja anak tersebut dikenal “extra aktif” yang bahkan beberapa teman menyebutnya, maaf, sebagai trouble maker: suka merebut mainan teman sebaya, usil pada yang lebih tua, dan sering “jag-jagan” lompat dari satu kursi ke kursi lain atau naik meja di ruang tamu. Continue reading “Excuse Me, Sorry & Thank You”

Peradaban Utama=Khaira Ummah+Ummatan Wasatha

Agar Muhammadiyah benar-benar menjadi bagian dari khaira ummah, ummatan wasatha dan pelopor peradaban utama, maka radius pergaulan warganya perlu diperluas. Tidak hanya pergaulan secara fisik namun juga secara intelektual dan spiritual. Jalinan silaturahim kader dan aktivisnya diperlebar dan sinergitasnya degan berbagai komponen kebajikan di dipererat. Perbedaan pandangan bukan alasan untuk saling menyingkirkin dan menegasikan namun untuk memperkokoh persaudaran.

Dengan modal khaira umah dan ummatan wasatha inilah peradaban utama bisa terealisir. Bila tidak, ia hanya akan menjadi slogan yang manis diucapkan, penghias ruangan, dan alat gagah-gagahan di berbagai kegiatan. Continue reading “Peradaban Utama=Khaira Ummah+Ummatan Wasatha”

Amanah itu

Amanah untuk berrhutbah idul fitri di lapangan Ponjong hari Rabu yang lalu telah saya tunuikan. Secara umum khutbah berjalan lancar, tidak terlalu lalu lama dan tidak terlalu cepat, cukupan lah. Jamaah saya lihat juga mengikuti dengan seksama.

Sayangnya, seusai khutbah, jamaah putri pada mengeluh bahwa mereka tidak bisa mengikuti khutbah dengan baik. Sound system yang dipasang panitia kurang menjangkau mereka yang berada 250 meter di depan saya. Setelah dievaluasi ternyata salon besar hanya diletakkan di depan jamaah putra; tidak ada satupun kontrol salon atau sender yang smestinya dipasang dibelakang jamaah putra, di depan jamaah putri.