Dunia dalam genggaman. Itulah ilustrasi kemajauan teknologi informasi saat ini. Segala macam peristiwa yang terjadi di berbagai belahan dunia bisa diketahui orang seantero bumi hanya dalam hitungan detik melalui perangkat teknologi. Dengan gadget telepon seluler cerdas (smart phone) di tangan, kita tidak hanya sebagai konsumen informasi, namun juga bisa menjadi perantara, bahkan juga produsen berbagai berita dari suatu peristiwa.

Menjamurnya media informasi online baik yang resmi dari portal kantor berita maupun yang berseliweran di sosial media dari para netizen mendorong orang berlomba ingin menyajikan informasi secepat mungkin. Di dorong oleh adagium “knowledge is power,” bahwa menguasai arus pengetahuan dan informasi adalah modal utama untuk menguasai dunia, orang pun berlomba memperoleh informasi dan pengetahuan secepat mungkin. Sayangnya, tidak sedikit dari konsumen informasi yang kurang menyadari bahwa sebagai bagian dari upaya mempengaruhi pikiran pembaca berita, produsen berita mencoba untuk menyajikan informasi, peristiwa, dan gagasan dengan framing yang sealur dengan kepentingannya.

Di tengah berseliwerannya aneka informasi yang super cepat dari berbegai pihak dengan kepentingannya masing-masin tersebut, kita dituntut untuk selalu cerdas dan bijak dalam menyikapinya. Tidak setiap informasi kita terima begitu saja dan dengan serta merta disebar ulang kepada khalayak ramai. Alih-alih akan memberikan pencerahan melalui broadcast, retweet, share, atau forward s, bila tidak hati-hati kita justru bisa menjadi bagian dari penyebar berita yang tidak jelas, hoax, atau bahkan mungkin fitnah.

Memang, secara psikologis ada rasa paling pintar dalam diri manusia bila mampu menjadi pihak yang paling awal memperoleh informasi dari suatu peristiwa, dan rasa paling pintar tersebut menjadi kebanggaan tersendiri. Dengan bantuan smart phone maupun tablet pada berlomba adu kecepatan untuk menjadi yang paling tahu dan yang pertama menyampaikan kembali berita yang diterima. Didukung oleh kultur masyarakat yang gemar berbagi, setiap informasi yang diterima sering begitu saja dikirim ulang kepada teman, group atau siapapun melalui sosial media, tanpa klarifikasi.

Sayangnya, hasrat menjadi menjadi yang tercepat dalam menyampaikan berita yang berpadu dengan semangat berbagi tersebut telah mendorong banyak pihak mengalamai defisit kehati-hatian, kurang  cermat dan mengabaikan kebenaran suatu berita yang diterima. Dan, sekali lagi, tanpa sadar sering menjadi bagian dari penyebar suatu berita bohong (hoax) maupun propaganda yang tidak jelas dari mana asalnya.

Perlunya Tabayun dalam Era Digital, Mensikapi Konten di Sosial Media
Perlunya Tabayun dalam Era Digital, Mensikapi Konten di Sosial Media

Pada konteks inilah ajaran Qur’an tentang “tabayyun” menemukan relevansinya. Dalam Q.S. Al-Hujarat [49]: ayat 6 dinyatakan: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan menyesal atas perbuatanmu itu.”

Qur’an menggunakan kata kerja tabayyanuu dalam ayat tersebut yang bisa diterjemahkan ke bahasa Indonesia “periksalah dengan teliti”. Kata tabayun berasal dari akar kata arab tabayana-yatabayanu-tabayyunan. Istilah tabayaun sudah cukup popular dalam masyarakat, terbukti istilah tersebut sudah ada dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang berarti pemahaman atau penjelasan.

Maulana Muhammad Ali dalam The Holy Quran, tarjamah dan tafsir Quran berbahasa Inggris menerjemahkan kata tersebut dengan “look carefully into it”. Ini menegaskan, sebagaimana juga yang dijelaskan oleh para mufassir seperti Imam Asyawkani dalam Fathul Qodir (7/10) dan Imam Ash-Shobuni dalam Rowa’iul Bayan Tafsir Ayatul Ahkam Minal Qur’an (1/226), agar berita dan informasi yang kita terima diperiksa dengan cermat, teliti, dan hati-hati, sehingga diperoleh informasi yang valid dan komprehensif, sebelum kita beritakan kembali, dan sebelum kita memberi status hukum terhadap berita tersebut sehingga segala langkah yang kita ambil terkait dengan berita tersebut tepat, tidak merugikan pihak lain.

Karena itu, berbagai berita dan informasi, entah itu dalam bentuk tulisan, gambar maupun video yang kita terima melalui sosial media perlu dicerna dahulu sumber, isi maupun dampaknya. Ada baiknya kita bertanya dalam hati, apa perlu informasi tersebut saya teruskan ke orang lain, seberapa urgen informasi tersebut bagi orang lain, apa dampak informasi tersebut bagi orang lain, dan begitu seterusnya. Kadang, hasrat untuk segera menyebarkan informasi yang kita terima tersebut sekedar dilandasi oleh keinginan untuk memperoleh sanjungan seperti dianggap orang yang membuat informasi tersebut, atau orang yang paling awal tahu tentang suatu peristiwa, dan begitu seterusnya. Yang lebih memprihatinkan, kadang gambar atau informasi yang kita kirim ulang tersebut isinya hanya olok-olokan atau bahkan pelecehan terhadap orang lain. Ironisnya kita sering menganggapnya itu sebagai bagian dari gurauan. Na’uudzubillahimindzaalik.

Perintah untuk memeriksa berita tersebut juga bagian dari implementasi agar kita tidak tergesa-gesa, sebagaimana sabda Rasulullah, at-ta’ajjalu min asy-syaithan (tergesa-gesa itu bagian dari perbuatan syaitan). Ketergesaan mengirim ulang berita gambar dan video kepada orang lain dengan motif memperoleh “jempol”, sanjungan dan ucapan terimakasih dari orang lain ini tentu masuk kategori perbuatan syaitan, apalagi jika isi informasinya penuh kebohongan dan mendiskriditkan pihak lain. Terhadap cerita atau gambar yang lucu mungkin kita akan tersenyum dan tertawa, namun sudahkah kita berfikir bagaimana perasaan orang atau kelompok masyarakat yang menjadi obyek bahan lelucon tersebut?

Disinilah relevansi sabda Nabi yang lain bahwa orang yang beriman itu selalu berkata yang baik, atau kalau tidak bisa berkata yang baik-baik lebih memilih diam (man kaana yu’minu billahi wa al-yaumi al-aakhiri fal-yaqul khairan au liyasmuth). Diam tidak memposting ulang berita yang tidak jelas, gambar, video atau tulisan yang hanya berisi gurauan bahkan melecehkan orang lain yang tidak mendidik itu lebih baik dan lebih bijak. Diam dan menahan diri untuk tidak memberi komentar negatif suatu berita atau bahkan mem-bully orang di media sosial itu lebih baik dan lebih bijak. Melalui tabayun, insya Allah kita menjadi lebih dewasa dan cerdas dalam menyerap setiap informasi.

Catatan: Dengan judul berbeda, tulisan ini pernah dimuat di Majalah Al-Manar, tahun 2015.
Photo by freestocks.org on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.