Mengajar Islamologi Mahasiswa Tiongkok

Ceritanya, tiga miggu yang lalu saya menyambangi sekretariat Center for Teaching Staff Development (CTSD) di lantai 3 Gedung Pusat Studi UIN Sunan Kalijaga. Direktur CTSD yang akan bertugas ke Sorong selama 3 minggu tampak surprise melihat saya datang siang itu. Kukatakan padanya kalau saya sedang riset lapangan di Jogja. Mengetahui saya punya waktu agak luang pada akhir pekan, setengah kegiraangan dia meminta saya untuk mengganti mengajar Studi Islam pada mahasiswa asal Tiongkok yang tengah mengambil program Sandwich di Universitas Ahmad Dahlan, salah satu Perguruang Tinggi Muhammadiyah di Yogyakarta.

Tidak satupun mahasiswa asal Tiongkok di kelas tersebut Muslim, karena itu materi Keislaman yang disampaikan pun lebih ditekankan pada Islamologi. Islam Ditinjau Dari Berbagai Aseknya karya Harun Nasution dipandang pas sebagai rujukan untuk menjelaskan seluk beluk agama Islam bagi non Muslim. Buku tersebut menguraikan Islam tidak secara doktriner, tapi mengupasnya dari berbagai sudut pandang seperti historis, sosiologis serta filosofis. Meski jauh dari kesan indroktinatif, namun karya doctor alumni McGil Univesity itu tetap diperkaya dengan nukilan-nukilan dalil naqli dari ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits untuk menunjukkan bahwa paparan historis, sosiologis dan filosofis dalam buku ini tidak bertentangan dengan nash .

Sabtu 17 Oktober saya masuk kelas untuk menjelaskan Makna Islam yang Sebenarnya. Lalu pada 25 Oktober mengupas keterkaitan antara Ibadah dalam Islam dengan Latihan Spiritual dan Pembinaan Moral. Sejak awal saya dipesan agar menjelakan secara pelan-pelan, sebab mereka juga masih belajar bahasa Indonesia. Semula saya berpikir, kalau bahasa Indonesia mereka masih terbata-bata saya toh bisa menerangkan dengan bahasa Inggris. Namun, salah satu pengelola program menyampaiakan sms bahwa mereka juga tidak faham bahasa Inggris. Akhirnya satu istilah bisa saya ulang berpuluh kali agar mereka mengerti. Hampir 30an mahasiswa itupun setia mebuka-buka “Buku Bantal Kamus Indonesia-Tiongkok. Belum cukup, masing-masing mereka juga ditemani kamus elektronik.

Meski saya harus rela berserak-serak akibat teriak mengulang-ulang materi kuliah, namun saya salut pada kegigihan mereka belajar bahasa Indonesia. Salah satu alasan kenapa saya bersedia mengajar mereka adalah hasrat untuk menjelaskan pada dunia bahwa Islam itu damai, indah, anti kekerasan dan penuh dengan ajaran etika universal. Islam sama sekali tidak identik dengan terror dan ketebelakngan, seperti yang sering dipropagandakan berbagai media Asing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *